Beberapa teman sering menceritakan tentang Negara Orientasi ini dan bagaimana kesan yang mereka rasakan saat terlibat di dalamnya. Namun, ini pertama kalinya saya berkunjung dan menjadi bagian dari negara ini. Jujur saya cemas, saya takut bertingkah salah, namun saya juga amat tidak sabar menunggu negara tersebut benar-benar beroperasi. Saya baru, saya tidak tahu apa-apa. Iya, saya memang dengar banyak cerita, tapi saya tidak bisa benar-benar percaya sampai saya terjun dan menjadi bagian di dalamnya.
Akhirnya, 10 hari yang ditunggu itu tiba..
Apa yang saya lakukan selama 10 hari itu? Saya mengerjakan pekerjaan saya, saya mengamati, saya berbagi, dan yang paling penting; saya belajar.
Saya bertemu penduduk asli Negara Orientasi yang beberapa di antaranya tidak saya kenal sebelumnya. Saya bertemu adik-adik yang tengah singgah ke negara tersebut dengan niatan murni untuk menyerap dan belajar.
Saya berinteraksi dan menjalin hubungan indah dengan kakak-kakak yang tulus, yang luar biasa berdedikasi untuk sama-sama mendambakan dunia yang lebih baik dan diisi oleh manusia-manusia hebat yang paham arti kehidupan sesungguhnya. Saya dikelilingi manusia-manusia yang tanpa sadar keberadaannya menerangi dan menginspirasi.
Saya takluk dan teresap dalam sebuah lingkaran besar penuh kedekatan dan makna di mana mimpi, harapan, ambisi, dan motivasi tergantung indah menunggu untuk dihampiri dan berkumpul serta menghadirkan warna-warni pada atmosfer yang bergelung di sekitaran.
Saya hanyut dalam suasana riuh penuh gelak tawa, obrolan hangat, tangis haru dan kebersamaan yang tidak pernah saya sadari bisa seindah ini.
Baik yang singgah maupun penduduk asli sama-sama berpengaruh dan bersinergi menghadirkan suasana nyaman dan menyenangkan. Seluruhnya lelah dan diserang rasa kantuk, namun entah bagaimana hal itu tidak sekalipun menurunkan rasa semangat. Rasa semangat yang timbul karena tau bahwa perjalanan akan segera dimulai, bahwa mimpi itu mungkin akan menjadi nyata, dan bahwa harapan itu tinggal beberapa jengkal lagi untuk bisa dikecap.
Penduduk asli mempersiapkan yang singgah untuk dapat paham dan bijaksana dalam menjalani mimpi mereka. Saya sendiri, meminjam frasa dari seorang teman, mengirim mimpi. Mimpi yang tidak terwujudkan sebelumnya, mimpi bahwa orang-orang ini bisa menjadi lebih dari sekadar manusia biasa, mimpi bahwa sedikit-demi-sedikit kita akan ikut membantu membangun dunia yang didambakan.
Selama 10 hari itu, saya terlibat hubungan manis eksklusif penuh pelajaran dan inspirasi.
Saya rindu berbagi tawa dan tangis haru, saya rindu merasa terinspirasi, saya rindu atmosfer warna-warni dan dikelilingi oleh mimpi yang tengah dirajut, saya rindu menyelam dalam kolam penuh antusiasme dan motivasi tinggi akan terwujudnya sebuah harapan, saya rindu raut-raut wajah yang tertarik dan ingin menyerap segala ilmu yang disodorkan. Saya rindu malam-malam di mana waktu tidur ditukar menjadi obrolan ceria dan determinasi tinggi untuk menciptakan pertunjukan yang spektakuler. Saya rindu menikmati makan bersama sambil mendengar celotehan lucu orang-orang itu. Saya rindu mendengarkan segala lelucon konyol yang dilontarkan. Saya rindu dikelilingi oleh atmosfer itu.
Saya rindu kebersamaan itu. Saya rindu Negara Orientasi.