Tuesday, August 28, 2012

Menyelami lautan yang diwarnai makna

Tepat satu bulan yang lalu saya menjadi bagian dari penduduk asli suatu negara kecil selama 10 hari. Negara Orientasi namanya. Negara ini dibentuk secara sengaja untuk bahan pembelajaran segala manusia yang singgah dan tinggal di dalamnya. Pembentukan negara ini telah berlangsung beberapa bulan sebelum negara ini akhirnya benar-benar terwujudkan dan dapat beroperasi.

Beberapa teman sering menceritakan tentang Negara Orientasi ini dan bagaimana kesan yang mereka rasakan saat terlibat di dalamnya. Namun, ini pertama kalinya saya berkunjung dan menjadi bagian dari negara ini. Jujur saya cemas, saya takut bertingkah salah, namun saya juga amat tidak sabar menunggu negara tersebut benar-benar beroperasi. Saya baru, saya tidak tahu apa-apa. Iya, saya memang dengar banyak cerita, tapi saya tidak bisa benar-benar percaya sampai saya terjun dan menjadi bagian di dalamnya.

Akhirnya, 10 hari yang ditunggu itu tiba..
Apa yang saya lakukan selama 10 hari itu? Saya mengerjakan pekerjaan saya, saya mengamati, saya berbagi, dan yang paling penting; saya belajar.
Saya bertemu penduduk asli Negara Orientasi yang beberapa di antaranya tidak saya kenal sebelumnya. Saya bertemu adik-adik yang tengah singgah ke negara tersebut dengan niatan murni untuk menyerap dan belajar.

Saya berinteraksi dan menjalin hubungan indah dengan kakak-kakak yang tulus, yang luar biasa berdedikasi untuk sama-sama mendambakan dunia yang lebih baik dan diisi oleh manusia-manusia hebat yang paham arti kehidupan sesungguhnya. Saya dikelilingi manusia-manusia yang tanpa sadar keberadaannya menerangi dan menginspirasi.
Saya takluk dan teresap dalam sebuah lingkaran besar penuh kedekatan dan makna di mana mimpi, harapan, ambisi, dan motivasi tergantung indah menunggu untuk dihampiri dan berkumpul serta menghadirkan warna-warni pada atmosfer yang bergelung di sekitaran. 
Saya hanyut dalam suasana riuh penuh gelak tawa, obrolan hangat, tangis haru dan kebersamaan yang tidak pernah saya sadari bisa seindah ini.

Baik yang singgah maupun penduduk asli sama-sama berpengaruh dan bersinergi menghadirkan suasana nyaman dan menyenangkan. Seluruhnya lelah dan diserang rasa kantuk, namun entah bagaimana hal itu tidak sekalipun menurunkan rasa semangat. Rasa semangat yang timbul karena tau bahwa perjalanan akan segera dimulai, bahwa mimpi itu mungkin akan menjadi nyata, dan bahwa harapan itu tinggal beberapa jengkal lagi untuk bisa dikecap. 
Penduduk asli mempersiapkan yang singgah untuk dapat paham dan bijaksana dalam menjalani mimpi mereka. Saya sendiri, meminjam frasa dari seorang teman, mengirim mimpi. Mimpi yang tidak terwujudkan sebelumnya, mimpi bahwa orang-orang ini bisa menjadi lebih dari sekadar manusia biasa, mimpi bahwa sedikit-demi-sedikit kita akan ikut membantu membangun dunia yang didambakan.

Selama 10 hari itu, saya terlibat hubungan manis eksklusif penuh pelajaran dan inspirasi.
Saya rindu berbagi tawa dan tangis haru, saya rindu merasa terinspirasi, saya rindu atmosfer warna-warni dan dikelilingi oleh mimpi yang tengah dirajut, saya rindu menyelam dalam kolam penuh antusiasme dan motivasi tinggi akan terwujudnya sebuah harapan, saya rindu raut-raut wajah yang tertarik dan ingin menyerap segala ilmu yang disodorkan. Saya rindu malam-malam di mana waktu tidur ditukar menjadi obrolan ceria dan determinasi tinggi untuk menciptakan pertunjukan yang spektakuler. Saya rindu menikmati makan bersama sambil mendengar celotehan lucu orang-orang itu. Saya rindu mendengarkan segala lelucon konyol yang dilontarkan. Saya rindu dikelilingi oleh atmosfer itu.

Saya rindu kebersamaan itu. Saya rindu Negara Orientasi.

Tuesday, August 21, 2012

Atmosfer baru yang riuh dan penuh harapan


Ini adalah sebuah curahan hati yang tertunda, yang baru sempat dituangkan sekarang, yang baru mampu dibagi saat ini, yang baru lega untuk diceritakan kembali...

Aku ingat bagaimana hancurnya hatiku ketika aku harus menerima fakta bahwa aku gagal. Aku ingat betapa sakit hatinya aku saat itu, ketika kusadari bahwa hal ini akan selalu terngiang-ngiang di telingaku dan bahwa hal ini akan menandai sebuah jalan baru yang tidak pernah aku inginkan. Aku ingat betapa perihnya rasa saat tau bahwa mimpi yang telah aku bangun rapi dan berusaha diraih selama 5 tahun terakhir akhirnya harus pecah.
Aku ingat segala hal itu. Aku kecewa, tapi aku munafik dan berusaha melanjutkan hidup tanpa ingat apapun tentang momen itu. 

Tapi entah apa yang terjadi selama 1-2 tahun terakhir ini, aku kembali merengkuh pecahan-pecahan mimpi aku yang kukira dulu telah sirna. Merengkuh bukan untuk membangunnya kembali, merengkuh untuk disusun menjadi sebuah sinar yang mungkin bisa menerangkan yang lain. 

Aku berterima-kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman aku yang mungkin tanpa sengaja melibatkanku dalam kegiatan-kegiatan Bina Antarbudaya ini. Sungguh, aku suka dan rela bekerja bersama teman-teman volunteer Bina Antarbudaya. Segala kekhawatiranku tidak terbukti. Aku dulu hanyalah satu dari ratusan-ribu helai jerami yang ditumpuk, bukan salah satu dari jarum dalam tumpukan tersebut. Aku bukan yang terpilih, aku tidak mengenyam hal yang sama seperti yang kakak-kakak ini rasakan. Tapi nyatanya, semua sakit hati itu yang menggiringku kembali kemari. Dan saat ini, semua sakit hati itu terbayarkan dengan rasa puas, gelak tawa, dan air mata haru yang kuperoleh dari sini. Aku bekerja tanpa dibayar, aku lelah dan terkadang susah, tapi sungguh aku rela. Aku puas dengan apa yang kudapatkan. Non-material, tentunya. Bahkan sebuah nilai plus bagiku, ketika aku dibandingkan dengan kakakku, atau ketika aku merasa terharu dan bangga melihatnya mengisi sesi layaknya penerang di depan ratusan anak yang tengah merajut mimpi. Sungguh, aku merasa sangat beruntung bisa ikut terlibat di dalam komunitas ini. 

Tercebur kembali dalam kolam ini adalah hal luar biasa yang terjadi dalam rangkaian kehidupanku. Aku bisa melihat segala mimpi-mimpi diwujudkan, aku bisa belajar segala macam tentang kehidupan. Tidak muluk-muluk bicara tentang negara atau perdamaian dunia, tapi aku bisa tersenyum melihat bagaimana perbedaan menjadi sebuah pemanis dalam hubungan antar manusia. Aku bisa merasakan atmosfer riuh penuh mimpi dan harapan yang bisa membuatku menangis haru..

Luar biasa.
Terima kasih, kakak-kakak volunteer Bina Antarbudaya!

Friday, August 17, 2012

Teman.

I don't know what inspires me to write this, but let me share something that has been in my mind for a while, waiting to be let out.

Aku ingin bicara tentang ... teman.

Kalau ada yang tanya teman itu apa, aku jujur aku mungkin tak akan bisa menjawabnya dengan skor yang sempurna.
Apa coba definisi teman? Jika tanya ke Google, mungkin akan banyak definisi indah yang muncul dan pantas untuk dapat skor bagus, A mungkin.
Tapi kalo aku ditanya teman itu apa, aku cuma bisa bilang teman itu orang yang selalu ada dan dekat.
Dan teman itu punya hak-hak istimewa atas diriku yang mungkin orang lain tidak punya.
Mereka mengambil sedikit waktuku tanpa aku merasa rugi. Mereka mengambil sedikit energiku untuk mengeluarkan berbagai emosi tanpa aku merasa lelah. Bahkan, mereka mengambil sedikit tempat di hatiku yang membuatku sulit untuk merasa sakit hati walaupun mereka berbicara kasar ataupun menempeleng kepalaku saat aku sedang tolol.
Tanpa sadar pun aku (dan aku yakin banyak orang lain) memberikan hak istimewa lain bagi temanku, yang mungkin selalu kita hindari untuk lakukan, dan sangat kita benci ketika orang lain melakukannya.
Aku memberikan temanku hak untuk men-judge.
Iya, tanpa sadar aku selalu butuh kemampuan mereka untuk menilai dan menghakimi. Menilai diriku sendiri, menilai orang yang sedang kuceritakan, ataupun orang lain yang asing simply untuk bahan pembicaraan.
Seriously, what are friends for if not to judge?
Aku selalu ingin dengar penilaian mereka, entah kupercaya atau tidak nantinya. Tapi, the idea of having them telling me their judgement itu terasa cukup. Paling tidak, aku merasa terisi.

Teman itu konsep yang manis bagiku. Tapi jujur, aku mungkin tidak bisa memperlakukan mereka semanis peran mereka di dalam kehidupanku.
Aku bukan orang yang manis, aku yaa seperti ini adanya. Tidak bisa berperilaku manis. Tapi yaa itu caraku mengapresiasi peran manis mereka, dan aku yakin orang-orang yang aku rujuk sebagai teman ini mengerti.

Aku mungkin bukan teman yang baik, apalagi manis. Di zaman yang sudah sangat maju ini, aku sulit untuk bisa keep up dengan teman-temanku. Dan aku benci diriku sendiri karena itu.
Aku tidak baik berkomunikasi melalui media, aku tidak nyata saat berkomunikasi di media. Aku tidak tahu bagaimana aku mengekspresikan diriku melalui media. Dan sayangnya, bagiku emoticon yang ada di media-media itu tidak cukup. Aku kecewa karena peran media sudah terlalu besar, walaupun tidak dapat dipungkiri betapa membantunya media-media itu. Aku janji aku berusaha, aku janji aku mau bisa berkomunikasi dengan teman-temanku melalui wadah apapun.

Aku masih belajar untuk menjadi teman yang baik, teman. Dan terima kasih karena kalian manis dengan cara kalian sendiri :)