I don't know what inspires me to write this, but let me share something that has been in my mind for a while, waiting to be let out.
Aku ingin bicara tentang ... teman.
Kalau ada yang tanya teman itu apa, aku jujur aku mungkin tak akan bisa menjawabnya dengan skor yang sempurna.
Apa coba definisi teman? Jika tanya ke Google, mungkin akan banyak definisi indah yang muncul dan pantas untuk dapat skor bagus, A mungkin.
Tapi kalo aku ditanya teman itu apa, aku cuma bisa bilang teman itu orang yang selalu ada dan dekat.
Dan teman itu punya hak-hak istimewa atas diriku yang mungkin orang lain tidak punya.
Mereka mengambil sedikit waktuku tanpa aku merasa rugi. Mereka mengambil sedikit energiku untuk mengeluarkan berbagai emosi tanpa aku merasa lelah. Bahkan, mereka mengambil sedikit tempat di hatiku yang membuatku sulit untuk merasa sakit hati walaupun mereka berbicara kasar ataupun menempeleng kepalaku saat aku sedang tolol.
Tanpa sadar pun aku (dan aku yakin banyak orang lain) memberikan hak istimewa lain bagi temanku, yang mungkin selalu kita hindari untuk lakukan, dan sangat kita benci ketika orang lain melakukannya.
Aku memberikan temanku hak untuk men-judge.
Iya, tanpa sadar aku selalu butuh kemampuan mereka untuk menilai dan menghakimi. Menilai diriku sendiri, menilai orang yang sedang kuceritakan, ataupun orang lain yang asing simply untuk bahan pembicaraan.
Seriously, what are friends for if not to judge?
Aku selalu ingin dengar penilaian mereka, entah kupercaya atau tidak nantinya. Tapi, the idea of having them telling me their judgement itu terasa cukup. Paling tidak, aku merasa terisi.
Teman itu konsep yang manis bagiku. Tapi jujur, aku mungkin tidak bisa memperlakukan mereka semanis peran mereka di dalam kehidupanku.
Aku bukan orang yang manis, aku yaa seperti ini adanya. Tidak bisa berperilaku manis. Tapi yaa itu caraku mengapresiasi peran manis mereka, dan aku yakin orang-orang yang aku rujuk sebagai teman ini mengerti.
Aku mungkin bukan teman yang baik, apalagi manis. Di zaman yang sudah sangat maju ini, aku sulit untuk bisa keep up dengan teman-temanku. Dan aku benci diriku sendiri karena itu.
Aku tidak baik berkomunikasi melalui media, aku tidak nyata saat berkomunikasi di media. Aku tidak tahu bagaimana aku mengekspresikan diriku melalui media. Dan sayangnya, bagiku emoticon yang ada di media-media itu tidak cukup. Aku kecewa karena peran media sudah terlalu besar, walaupun tidak dapat dipungkiri betapa membantunya media-media itu. Aku janji aku berusaha, aku janji aku mau bisa berkomunikasi dengan teman-temanku melalui wadah apapun.
Aku masih belajar untuk menjadi teman yang baik, teman. Dan terima kasih karena kalian manis dengan cara kalian sendiri :)
No comments:
Post a Comment